DIMENSI
“Hey menurut lo ujung “Alam Semesta”, itu ada gak ya”? Yah begitulah tanyanya. Entah ini serius atau tidak, tapi inilah rasa penasaran seorang remaja yang bertanya kepada sahabatnya. Mungkin… kalau dia bertanya kepada guru atau orang tuanya, yah, cuman jadi angin lalu saja. Itulah mengapa ada yang bilang kata-kata sahabat lebih mudah untuk didengarkan karna sahabat pendengar yang baik.
“Lo mah ngaco aja nanya nya, tapi kalo menurut lo, alam semesta ini kayak gimana sih? Jawab ku kepadanya sambil memancing sedikit pendapatnya.
Dia yang duduk di sofa coklat tua, sambil memandangi langit-langit cafe yang bercorak eropa abad ke19, dengan siku yang disenderkan di sofa, dan tangan menompang kepala, serta kaki yang disilangkan jatuh kebawa lantai, seolah tengah befikir serius, sesekali menatap mataku. Kemudian dia menegakkan badannya dan mengangkat segelas latte hangat lalu meminumnya, yang mininggalkan jejas foam putih di atas bibirnya. Lalu ia menjawab.
“Kalo menurut gw si alam semesta tu kayak kumpulan dari planet yang ngebentuk “Tata surya” lalu terus habis itu kan ada “Oort Cloud” terus lagi ada “local interstellar Cloud” dan setelahnya baru galaksi kita “Bima Sakti” dan seterusnya… sampe nengebetuk seluruh alam semesta kurang lebih gitu si”. Jawabnya dengan pelan sambil menjelaskan secara perlahan. Kemudian ia kembali menyandarkan badannya di sofa dengan menyilangkan tangan nya.
“Ah elu mah malah nanya balik, kan gw yang nanya ujung alam semesta ada gak? Gimana sih”.
“Santai lah, gw cuman pengen tau aja pendapat lo, gw coba jawab sepengetahuan gw aja ok”. Diriku yang membenahi cara duduk ku, agar lebih nyaman dan santai, aku menolehkan pandanganku ke arah luar jendela cafe dan melihat banyaknya orang yang lalu lalang di trotoar sambil berjalan kaki, ada yang dengan istri dan anaknya, ada yang dengan pasangan nya, ada pula yang berjalan seorang diri dengan bayangan sebagai teman satu-satunya. Kemudian aku balik menoleh ke arah sahabatku, dan mengambil satu buah donat coklat tak berlubang dengan isian cream didalamnya, yang seakan membanjiri mulut ketika digigit, serta setelahnya aku menegguk kopi hitam tanpa gula yang menetralisir rasa yang begitu manis dan creamy dari donat yang kumakan.
Komentar
Posting Komentar